“PENGKHIANATAN
SEORANG ANAK KEPADA SANG IBUNDA”
Karya Hafid
Kokok si jago ( ayam jantan ) sudah
mulai terdengar menyambut sang fajar, mengundang mentari pagi. Jarum jam masih
menunjukkan jam 04:48 WIB tentunya untuk melihat ayam sekitarpun pada saat itu
masih remang-remang. Seperti biasa,
saya dan kedua orang tua saya melaksanakan kegiatan ritual yang biasa kami
laksanakan dengan rutin di pagi hari yaitu shalat subuh.
. . . . . . . . . .
Belum selesai wiritan, tiba-tiba
terdengar bunyi pecahan benda kaca dari sebelah rumah ternyata suara tersebut
berasal dari rumah tetangga sebelahku. Saya dan keluarga saya segera lari
menghampiri sumber bunyi tersebut, ternyata itu bunyi pecahan sebuah piring
yang sengaja di pecahkan oleh Jefri ( anak laki-laki dari pak Nuri tetangga
sebelah ). Karena pak Nuri tidak mempunyai keluarga, ayahku yang mencoba
menyelesaikan masalah itu. Dengan nada lemah lembut ayahku menanyakan tentang
apa yang telah terjadi sampai-sampai membanting beberapa piring kaca miliknya.
Pertanyaan ayah belum terjawab namu Jefri telah pergi meninggalkan kita dengan
membawa sebuah tas koper.
. . . . . . . . . .
Lalu pak Nuri bercerita bahwa dia
mencoba untuk menasehati si Jefri agar berhenti menjadi orang yang mempunyai
julukan si panjang tangan yang suka
merampas harta benda yang bukan haknya. Namun, Jefri keras kepala dia membantah kepada ibunya dan tidak mau menggubris
sedikitpun dari nasehat ibunya.
. . . . . . . . . .
Sudah beberapa hari ini Jefri belum
pulang kerumah. Setiap hari ibunya mencoba untuk mencarinya di sekeliling
kampungnya. Selang beberapa hari akhirnyapun dia menemukan Jefri di sebuah
komplek kecil bersama teman-temannya. Ibunya membujuk Jefri untuk pulang
kerumah. Namun Jefri menolak dengan keras ajakan ibunya dan Jefripun
mengusirnya dari tempat tersebut. Hati pak Nuri bagitu sakit bagai di gores
pecahan kaca. Ternyata kebaikan dan jasa ibunya yang telah mendidik dan
membesarkannya dari kecil sehingga dewasa.
Tidak Jefri sadari
hatinya sudah buta bahkan ia sampai berkata dan bersumpah akan membuat rifalitas dengan sang ibundanya
sendiri. Air matapun tak bisa di bendung lagi oleh pak Nuri. Kini air susupun telah di balas dengan air
ketuba.
Namun, meskipun Jefri
telah melakukan hal tersebut kepada_Nya sang ibunda tidak mampu membenci Jefri.
Ia tetap sayang terhadap buah hatinya tersebut. Meskipun Jefri telah jahat kepadanya. Pak Nuri tetap
menganggap Jefri anak yang paling baik, namun masih belum di bukakan pintu
hatinya oleh yang maha kuasa.
Sekian. . . . . . . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar