Senin, 08 September 2014

Cerpen PENGKHIANATAN SEORANG ANAK KEPADA SANG IBUNDA



“PENGKHIANATAN SEORANG ANAK KEPADA SANG IBUNDA”
Karya Hafid

          Kokok si jago ( ayam jantan ) sudah mulai terdengar menyambut sang fajar, mengundang mentari pagi. Jarum jam masih menunjukkan jam 04:48 WIB tentunya untuk melihat ayam sekitarpun pada saat itu masih remang-remang. Seperti biasa, saya dan kedua orang tua saya melaksanakan kegiatan ritual yang biasa kami laksanakan dengan rutin di pagi hari yaitu shalat subuh.
. . . . . . . . . .

          Belum selesai wiritan, tiba-tiba terdengar bunyi pecahan benda kaca dari sebelah rumah ternyata suara tersebut berasal dari rumah tetangga sebelahku. Saya dan keluarga saya segera lari menghampiri sumber bunyi tersebut, ternyata itu bunyi pecahan sebuah piring yang sengaja di pecahkan oleh Jefri ( anak laki-laki dari pak Nuri tetangga sebelah ). Karena pak Nuri tidak mempunyai keluarga, ayahku yang mencoba menyelesaikan masalah itu. Dengan nada lemah lembut ayahku menanyakan tentang apa yang telah terjadi sampai-sampai membanting beberapa piring kaca miliknya. Pertanyaan ayah belum terjawab namu Jefri telah pergi meninggalkan kita dengan membawa sebuah tas koper.
. . . . . . . . . .

          Lalu pak Nuri bercerita bahwa dia mencoba untuk menasehati si Jefri agar berhenti menjadi orang yang mempunyai julukan si panjang tangan yang suka merampas harta benda yang bukan haknya. Namun, Jefri keras kepala dia membantah kepada ibunya dan tidak mau menggubris sedikitpun dari nasehat ibunya.
. . . . . . . . . .


          Sudah beberapa hari ini Jefri belum pulang kerumah. Setiap hari ibunya mencoba untuk mencarinya di sekeliling kampungnya. Selang beberapa hari akhirnyapun dia menemukan Jefri di sebuah komplek kecil bersama teman-temannya. Ibunya membujuk Jefri untuk pulang kerumah. Namun Jefri menolak dengan keras ajakan ibunya dan Jefripun mengusirnya dari tempat tersebut. Hati pak Nuri bagitu sakit bagai di gores pecahan kaca. Ternyata kebaikan dan jasa ibunya yang telah mendidik dan membesarkannya dari kecil sehingga dewasa.
Tidak Jefri sadari hatinya sudah buta bahkan ia sampai berkata dan bersumpah akan membuat rifalitas dengan sang ibundanya sendiri. Air matapun tak bisa di bendung lagi oleh pak Nuri. Kini air susupun telah di balas dengan air ketuba.
Namun, meskipun Jefri telah melakukan hal tersebut kepada_Nya sang ibunda tidak mampu membenci Jefri. Ia tetap sayang terhadap buah hatinya tersebut. Meskipun Jefri  telah jahat kepadanya. Pak Nuri tetap menganggap Jefri anak yang paling baik, namun masih belum di bukakan pintu hatinya oleh yang maha kuasa.
Sekian. . . . . . . .